Ketua MRP Papua Tengah Hadiri Pemakaman Korban Tragedi Mile 69

  • Beranda
  • Ketua MRP Papua Tengah Hadiri Pemakaman Korban Tragedi Mile 69

Ketua MRP Papua Tengah Hadiri Pemakaman Korban Tragedi Mile 69

Oleh Admin Humas 10 May 2026 51 Dilihat

MIMIKA - Suasana haru menyelimuti Kompleks Waanal, Distrik Kwamki Narama, pada Minggu (10/05/2026). Di kediaman Pdt. Anton Wamang, jenazah Nalite Wamang (sebelumnya tertulis Lince Wamang), seorang remaja putri yang baru saja merayakan kelulusan SMA, dihantarkan ke peristirahatan terakhir. Namun, di balik tangis keluarga, terungkap sebuah pengakuan pahit: Nalite tewas akibat "kesalahan prosedur" operasi militer.



Kesalahan Prosedur di Balik Kabut Tembagapura

Insiden berdarah ini terjadi di area Mile 69 Tembagapura. Dalam pertemuan transparan di depan rumah duka, Komandan Satgas Rajawali, Letkol Tomi Pandu, secara terbuka mengakui adanya kelalaian fatal. Ia mengungkapkan bahwa kontak tembak terjadi saat personelnya sedang melakukan latihan dan mendapat gangguan dari kelompok kriminal bersenjata (KKB).


"Kami mengakui bahwa seharusnya kami evakuasi warga lalu melakukan penindakan. Namun dalam situasi malam hari yang berkabut, kami tidak punya ruang," ujar Letkol Tomi di hadapan keluarga dan pejabat yang hadir.

Pengakuan ini menjadi sorotan tajam. Pasalnya, korban yang merupakan warga sipil, berada di lokasi untuk mendulang demi mencari biaya kuliah ke Semarang. Sebuah cita-cita yang harus kandas di ujung laras senjata akibat absennya mitigasi perlindungan warga sipil dalam zona konflik.


Ketua MRP Papua Tengah: Evaluasi Total Perkuatan TNI

Kehadiran Ketua Majelis Rakyat Papua (MRP) Provinsi Papua Tengah, Agustinus Anggaibak, memberikan bobot politis dan kultural pada peristiwa ini. Sebagai lembaga kultur, MRP tidak tinggal diam melihat nyawa warga sipil kembali melayang.

Kami telah menyurat ke Panglima TNI untuk mengevaluasi penggunaan perkuatan TNI di Papua. Kasus serupa telah banyak terjadi," tegas Agustinus.

Meski mengecam insiden tersebut, Agustinus mengapresiasi sikap keluarga yang memilih jalan damai. Namun, ia mengingatkan agar masyarakat tetap waspada dan segera menghindar jika melihat aktivitas bersenjata di wilayah pendulangan guna menghindari peluru nyasar atau salah sasaran.


Suara Hati Keluarga: Menyerahkannya pada Tuhan

Pdt. Anton Wamang, mewakili keluarga besar Wamang, menyampaikan narasi yang menyayat hati. Nalite sempat berkomunikasi dengan orang tuanya sesaat sebelum kejadian, mengabarkan posisinya di Mile 68. Namun, komunikasi itu terputus selamanya hingga informasi kematian datang dari pihak TNI.


"Kami sangat terpukul, apalagi dia seorang perempuan. Namun, kami menerima kejadian ini karena pihak TNI sudah mengakui adanya kesalahan prosedur. Kami tidak akan mengadu, kami serahkan semua kepada Tuhan," ungkap Pdt. Anton dengan nada tegar.

Pihak keluarga juga menitipkan tuntutan krusial bagi keberlangsungan hidup warga lokal:

  1. Jaminan Keamanan: Meminta TNI/Polri memberikan ruang aman bagi masyarakat untuk mendulang tanpa rasa takut.

  2. Tanggung Jawab Logistik: Menuntut TNI mengakomodasi seluruh biaya pemakaman dan kebutuhan makan-minum (bama) selama masa duka.



Bantuan Logistik dan Komitmen Kedepan

Dalam kunjungan tersebut, Kepala Distrik Kwamki Narama, Edwin Hanuebi, menyerahkan bantuan bahan makanan (bama) berupa beras, mie instan, gula, dan kopi sebagai bentuk simpati pemerintah. Satgas Rajawali pun berkomitmen penuh untuk menanggung biaya pemakaman sesuai permintaan keluarga.


Catatan Transparansi

Tragedi ini menyisakan pekerjaan rumah besar bagi otoritas keamanan di Papua. Meskipun situasi di Kwamki Narama terpantau kondusif pasca pemakaman, tuntutan akan akses ekonomi di wilayah objek vital nasional dan evaluasi SOP penindakan bersenjata menjadi poin yang tidak bisa ditawar.

Keikhlasan keluarga Wamang adalah sebuah kemurahan hati, namun transparansi atas "kesalahan prosedur" ini harus menjadi momentum perbaikan menyeluruh agar tidak ada lagi "Nalite" lain yang menjadi korban di tengah kabut konflik Papua.

Admin Humas
Penulis

Admin Humas

.